Indonesia
merupakan bangsa yang sangat kaya akan keragaman berbahasa dalam berbagai
budaya yang ada. Tentunya sebagai bagaian dari bangsa ini kita sebagai
masyarakatnya memiliki kesempatan besar akan pengetahuan mengenai berbagai
bahasa yang ada di Negara kita sendiri. Jika kita sebagai anak muda saat ini
melihat keadaan yang ada maka kemungkinan kita akan memberikan persepsi yang sama
mengenai hal ini, yakni sampai saat ini masih banyak masyarakat Indonesia
sendiri yang bahkan tidak mengenal budaya dan bahasanya sendiri (bahasa daerah
asal kelahirannya).
Salah satu contonya adalah diri saya
sendiri, untuk itulah sebenarnya saya menuliskan hal ini untuk dapat berbagi
sedikit pengalaman saya dengan para pembaca yang ada. Saya berasal dari dari
keluarga berdarah Batak yang tinggal di Medan. Namun, meskipun lahir dan sampai
saat ini saya besar di Medan, saya masih tidak mampu berbahasa Batak dengan
fasih, padahal ada banyak masyarakat kota Medan yang masih menjunjung tinggi
nilai-nilai budaya Batak tersebut termasuk yang paling menonjol adalah logat
dan khasnya bahasa Batak orang Medan. Tetapi, pada diri saya sendiri sembari
saya menjalani pendidikan saya yakni hidup di era revolusi 4.0 dimana
perkembangan zaman semakin pesat dan seluruhnya terbantu oleh teknologi yang
canggih saat ini, termasuk koneksi kita yang memungkinkan berhubungan dengan
berbagai orang diseluruh dunia kapan saja dan dimana saja, sehingga hal
tersebut membuat kita semakin mudah dan semakin terpengaruh dengan budaya
masyarakat luar / asing.
Salah satunya yang dapat kita lihat
dengan nyata saat ini adalah maraknya gaya hidup dengan ala korea dan ala barat
/ kebarat-baratan. Baik dari segi penampilan / fashion korea dan funky
casual ala budaya barat, selain itu juga sangat terasa dalam etika anak
muda masa kini yang sudah tidak seperti dulu yang lebih menjunjung kesopanan
bukan kebebasan bertindak. Selain itu adalah bahasa yakni sudah berkembang
sedari dulunya salah satunya paling terasa dalam bidang pendidikan dimana sejak
beberapa tahun lalu sudah banyak sekolah yang berdiri dengan gaya
“internasional” kemudian menggunakan kajian bilingual dalam sistem
pendidikannnya. Hal ini memang baik untuk memperkaya pengetahuan anak muda
namun juga memberikan dampak buruk oleh karena tidak seimbangnya lagi motivasi
untuk mempelajari budaya orang asing dibandingkan budaya kita sendiri.
Teori Dornyei (2001:7) "the term 'motivation' menyatakan
bahwa bagi para pengajar bahasa bahwasanya tingkat motivasi murid mereka
dilihat dari seberapa besar murid mereka tertarik untuk berpartisipasi dalam
berbagai aktivitas dikelas. Namun mungkin bagi murid mereka motivasi mereka
belajar suatu bahasa adalah karena bahasa tersebut sepertinya menarik dalam
suatu budaya tertentu atau tertarik karena berguna untuk karir mereka nantinya (Schmidt, 2014)
Kemudian pada Teori oleh psikolog
sosial yakni Robert Gardner & Wallace Lambert mengenai "motivational factor" mempengaruhi pencapaian bahasa
kedua, yakni dengan konsep integrative
orientation and instrumental orientation, yang pada konsep integrative motive Gardner membuat model socio-educational. Namun, pada akhirnya konsep Gardner mengenai
integrativeness dihubungkan oleh Dornyei yang menggunakan konsep "ideal L2 self" yakni motivasi
integratif dari tujuan murid untuk menjadi seseorang dari target komunitas bahasa
menuju kepada tujuan murid untuk mengembangkan diri mereka sehingga semakin
dekat "ideal self" mereka (Schmidt, 2014)
Saat ini kita sebagai generasi milenial
dapat melihat dengan nyata bahwa banyak dari kita yang melupakan kebudayaan dan
bahasa dari asalnya sendiri. Seperti sebuah hasil dari penelitian mengenai
motivasi dari pelajar di Australia untuk mempelajari bahasa Jerman oleh Schmidt
yang memberikan keterangan yaitu adanya "motivational influemces" yang membuat murid memilih Jerman
sebagai bagian dari pendidikan mereka. Kemudian dari hal tesebut diperoleh 3
faktor motivasi mengenai mempelajari bahasa Jerman ; 1. Ketertarikan umum
terhadap bahasa Jerman yang berkaitan dengan budaya yang menyenangkan, dan
apreasiasi yang diterima karena mampu mempelajari berbagai bahasa 2. Keinginan
untuk dapat berkomunikasi bahasa Jerman ketika bekerja,belajar, atau travelling
ke Jerman 3. Bahasa Jerman menjadi bahasa yang penting dalam dunia bisnis yang
dapat memberi keuntungan professional (Schmidt, 2014)
Mempelajari bagian dari budaya orang
lain adalah baik dan mungkin memang memberikan kegunaan ataupun kepuasan
tersendiri pada masing-masing orang, namun terutama adalah harus mengenal
budayanya sendiri terlebih dahulu agar kita tidak kehilangan identitas diri
kita dimasa revolusi teknologi saat ini yang mau tidak mau menarik kita untuk
ikut hidup dengan mudah dan instan dalam menerima dan mempelajari segala hal
yang ingin kita ketahui.
Schmidt, G. (2014). Personal growth as a strong
element in the motivation of Australian university students to learn German. Australian
Review of Applied Linguistics, 37(2), 145–160.
https://doi.org/10.1075/aral.37.2.04sch
wah tulisannya sangat bermanfaat 💐
ReplyDeleteTulisan yg sgt menarik😀👍
ReplyDeleteMenarik dan bermanfaat
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteWah... nmbah ilmu nih
ReplyDeleteCukup menarik nihh tulisannya, makasih yaa
ReplyDeleteTulisannya sangat membantu min. Terimakasih
ReplyDeleteTulisan yang membuat semangat
ReplyDeleteCukup mantap, sangat mantap, mantaaapp kaleeee
ReplyDeleteNih cocok buat yg belum jago bahasa asing.. bagus min
ReplyDeleteThank you for your info, salute!
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKeren
ReplyDeleteAku syukaaa, menambah wawasan
ReplyDeleteMenarik sekali
ReplyDeletesyukaaa😍
ReplyDeleteGosh! I like this sooo much🖤
ReplyDeleteBagus ��
ReplyDelete